Ahmadiyah : Kisah orang-orang yang masuk Ahmadiyah

Saya istikharah tentang dakwah Hazrat Sahib (Mirza Ghulam Ahmad) maka didalam jawabannya saya melihat sebuah gerabak (carriage) turun dari langit dan tiba-tiba turunlah iham didalam kalbu saya bahwa Al Masih yang dijanjikan sedang turun dari langit. Ketika saya singkapkan kain penutup gerabak itu saya lihat Mirza Ghulam Ahmad duduk didalamnya. Setelah menyaksikan kasyaf dan menerima ilham itu maka sayapun langsung bai’at kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Malik Salahuddin MA Sahib, dalam menuturkan kehidupan Mlv Rahimullah Khan Sahib r.a. telah menulis sebagai berikut: “Mlv Rahimullah Sahib seorang Muwahid yang sangat tinggi derajatnya. Beliau sering berjumpa dengan orang-orang Alim yang rajin dan tekun melakukan ibadah. Akan tetapi mereka itu sedikit-banyak terlibat didalam kemusyrikan sehingga beliau tidak bersedia untuk melakukan bai’at kepada siapapun diantara mereka itu, setelah melalui perjalanan yang susah dan jauh sampailah beliau ke Swat berjumpa dengan Ahwan Sahib Swat.

Saya merasa sangat kecewa menjumpai Ahwan Sahib Swat karena dia mengajarkan sesuatu yang berbau syirik. Dan tanpa melakukan bai’at saya kembali lagi dari sana. Lama kemudian setelah beliau bai’at kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. dalam keadaan bangun beliau sering mendapat kasyaf dari Allah swt terutama diwaktu beliau mengimami sembahyang, sehingga beliau berulang kali bertemu dalam kasyaf dengan Rasulullah saw dan para Anbiya lainnya juga. Tentang kebenaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. beliau menerima ilham, ru’ya dan kasyaf yang sangat jelas sekali dari Allah swt. Beliau berkata ” Saya istikharah tentang dakwah Hazrat Sahib (Mirza Ghulam Ahmad) maka didalam jawabannya saya melihat sebuah gerabak (carriage) turun dari langit dan tiba-tiba turunlah iham didalam kalbu saya bahwa Al Masih yang dijanjikan sedang turun dari langit. Ketika saya singkapkan kain penutup gerabak itu saya lihat Mirza Ghulam Ahmad duduk didalamnya. Setelah menyaksikan kasyaf dan menerima ilham itu maka sayapun langsung bai’at kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Di zaman Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad terdapat sebuah riwayat di Fiji. Sebelum Ahmadiyah berdiri di kepulauan Fiji pendeta-pendeta Agama Kristen sedang giat mengembangkan pengaruh dan ajarannya. Seperti orang-orang Islam, orang-orang Kristen juga disana sedang menunggu Nabi Isa a.s. turun dari langit. Oleh sebab itu seorang Islam bernama Bashir Khan telah menulis, katanya pendapat Islam dan Kristen tentang Nabi Isa a.s. sama saja, jadi hati saya memutuskan pada waktu itu bahwa Agama Kristen adalah benar, tidak salah kalau saya menjadi orang Kristen. Diwaktu saya masih menjadi Kristen saya banyak berpikir-pikir tentang Agama Islam, akhirnya Allah swt memberi pengertian kepada saya melalui mimpi. Didalam mimpi itu saya bertemu dengan orang suci dan berkata dengan gagah berani kepada saya: “Hai Muhammad Basyir, sadarlah engkau!! Orang yang engkau sedang tunggu-tunggu itu bukanlah Nabi Isa a.s. melainkan orang lain lagi dan beliau sudah datang kedunia.” Pada waktu itu Muballigh pertama di Fiji Tuan Abdul Wahab Sahib sudah tiba di Fiji. Dan beliau menulis bahwa ayah saya bernama Maulvi Kasim Sahib telah bai’at dan masuk kedalam Jamaah Ahmadiyah. Pada waktu itu hati saya tidak begitu tertarik terhadap berita ini. Namun tidak lama kemudian perhatian saya mulai tercurah kepada Jema’at Ahmadiyah, kemudian akhirnya dengan lapang dada saya bai’at melalui ayah saya. Setelah bai’at ditangan Hazrat Khalifatul Masih TSani r.a. timbul semangat dan kecintaan yang sangat dalam terhadap Islam dan Allah swt telah memberi pemahaman dan pengertian tentang Agama Islam sehingga dengan yakin saya berani membuktikan kebenaran ajaran Islam serta melawan Kristen untuk membuktikan kebathilan ajaran mereka.

Peristiwa lain lagi dizaman Khilafat Tsaniah, seorang Ahmadi pertama di Sieraleone bernama Pal Sanfatulla dengan menakjubkan sekali Allah swt telah memberi taufiq kepada beliau untuk menerima kebenaran dan masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah. Katanya pada tahun 1939 ketika saya tinggal disebuah kampung bermimpi bahwa saya sedang membersihkan halaman mesjid dikampung itu. Ketika saya tengah melepaskan lelah berdiri dibawah sebatang pohon dekat Masjid itu, tiba-tiba datang seorang berpakaian putih sambil memegang Qur’an dan Byble. Setelah dekat beliau mengucapkan Assalamualaikum kepada saya. Lalu menanyakan siapa Imam Masjid ini? Saya mau berjumpa dengan beliau!! Lalu saya pergi memanggil Imam itu yang bernama Alfa. Ketika kami kembali beliau merasa heran melihat orang itu. Akhirnya orang asing itu berdiri di depan mihrab dan beliau mengajak duduk bersama-sama kemudian mulailah beliau mengajarkan Al Qur’an kepada kami. Baru beberapa menit berlalu tiba-tiba beliau keluar kemudian masuk lagi sambil berkata kepada kami, saya akan mengajarkan sembahyang dengan cara yang betul kepada kalian. (Disana pada umumnya pengikut mazhab Imam Malik, sembahyang tanpa melipat dan tanpa meletak tangan di dada) Sesudah itu sayapun bangun. Diwaktu pagi saya ceritakan mimpi itu kepada teman-teman muslim. Selanjutnya ia mengatakan, kira-kira seminggu setelah kejadian mimpi itu pagi-pagi saya pergi untuk membersihkan halaman mesjid. Kira-kira setengah jam kemudian saya berdiri dibawah pohon palm untuk melepaskan lelah. Beberapa menit kemudian datanglah seorang Muballigh Ahmadi bernama Alhaj Maulana Nazir Ali Sahib. Yang mengherankan saya adalah apa yang saya lihat dalam mimpi itu sedang saya lihat kenyataannya. Maulana Nazir Ali Sahib seorang Muballigh yang sangat mukhlis dan bersih hati dan pakaian yang beliau pakai persis seperti yang saya lihat didalam mimpi itu. Saya merasa beruntung sekali mendapat kesempatan untuk mengkhidmati tamu, maka saya bawa beliau kerumah saya sendiri. Setelah itu saya panggil kawan-kawan dan diberitahukan kepada mereka bahwa orang yang saya lihat didalam mimpi itu sekarang sudah datang dirumah saya. Selanjutnya ia katakan bahwa setelah beberapa hari kemudian saya sudah menjadi Ahmadi dan kawan-kawan muslim lainnya juga bai’at masuk Jema’at Ahmadiyah.

Pada zaman sekarang juga Allah swt membersihkan kalbu manusia dan mensucikannya. Kisah tersebut diatas adalah kisah 30 atau 40 tahun yang silam. Namun sekarang saya ingin menceritakan kisah yang telah terjadi tiga empat tahun yang lepas, bagaimana Allah swt menyediakan sarana hidayah bagi hamba-hamba-Nya. Sekarang juga tanda-tanda yang mendukung kebenaran da’wa Hazrat Masih Mau’ud – Mirza Ghulam Ahmad terus berlangsung tidak pernah berhenti. Syaratnya untuk mendapat hidayah dari Allah swt manusia harus memiliki hati bersih dan suci dan dia sedang berusaha mencari hidayah dengan niat yang lurus.

Di AlJazair seorang bernama Haddad Abdul Qadir mengatakan bahwa pada tahun 2004 saya melihat mimpi didalam bulan Ramadhan Mubarak seseorang datang dan berkata kepada saya, mari ikut saya untuk berjumpa dengan Rasulullah saw. Saya lihat Nabi Muhammad saw sedang berdiri dibelakang sebuah dinding yang tingginya kira-kira satu meter. Begitu melihat saya beliaupun tersenyum, lalu saya lihat seorang berkulit warna gandum berdiri diantara kedua dinding dimana Rasulullah saw sambil menunjuk kepada yang sedang berdiri itu berkata kepada saya: Haadza Rasulullah! Ini adalah seorang Rasul Allah. Kemudian beliau pergi kearah timur sedang orang ini tetap berdiri ditempatnya. Katanya, empat tahun kemudian pada tahun 2008 saya lihat didalam TV gambar orang yang berdiri bersama Rasulullah saw dan itulah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Maka beliau yakni Haddad Abdul Qadir langsung bai’at masuk Jema’at Ahmadiyah.

Begitu juga seorang perempuan di Mesir bernama Halla Muhammad Ali Jauhari Sahibah, katanya saya melihat Hazrat Imam Mahdi bersama Jema’at beliau sedang berjalan diatas air. Saya berkata kepada beliau “Izinkanlah saya juga ikut barsama Tuan”. Maka beliau jawab, “nanti pada waktu kembali lagi akan kami bawa ikut bersama”. Setelah melihat mimpi itu saya mulai mencari-cari kebenaran didalam Sufiism, karena mimpi ini tdak mungkin salah, namun saya tidak mendapatkan sembarang pengetahuan yang mendukung makna mimpi saya itu. Kemudian saya menyaksikan MTA 3 Al Arabiyya, saya sangat terperanjat melihat gambar yang sama dengan gambar yang telah saya lihat didalam mimpi itu, yaitu Imam Mahdi sedang berjalan diatas air.

Abdurrahim Fanjan Sahib dari Irak berkata, dalam mimpi saya berjumpa dengan Imam Mahdi a.s. berkata kepada saya: Engkau salah seorang dari antara kami juga mari bai’at dan masuklah Jema’at bersama kami. Maka saya tidak tunggu-tunggu lagi langsung bai’at.

Demikian juga diterima kisah dari Mauritius seorang Muballigh kita menulis katanya, sebuah pulau kecil bernama Roldrick berpenduduk 31.000 orang, semua penduduk disana beragama Kristen Katholik. Katanya diwaktu pagi saya keluar untuk bertabligh bersama seorang Kristen yang sedang ditablighi. Sampailah kami ke rumah seorang ibu yang dituju itu yakni ibu dari teman yang dibawa tabligh ini. Setelah berjumpa dengannya kamipun mulailah bertabligh kepadanya. Nenek dari pada anak ini berkata ; Pesan yang anda terangkan sungguh benar dan saya menerima dengan hati senang, sebab semua ahli rumah menjadi saksi bahwa sebelum anda sampai disini saya telah melihat mimpi bahwa ada orang asing datang dan saya pegang tangannya dan saya katakan hubungan kita yang sedang dirintis ini saya setuju sekali. Nenek itu berkata, ketika anda sedang datang menuju rumah kami saya lihat dari jendela dan saya berkata didalam hati saya inilah orang yang pernah saya lihat didalam mimpi itu. Kedatangan yang kedua kalinya saya membawa hadiah Al Qur’an untuknya. Kemudian datang untuk yang ketiga kalinya saya membawa formulir bai’at dengan harapan orang-orang ini akan bai’at. Pada waktu itu saya lihat perempuan itu menangis sambil mencucurkan air mata dan berkata: “Saya tidak merasa ragu sedikitpun untuk mengisi form bai’at ini karena kemarin saya telah bermimpi bahwa kepada saya diberikan dua lembar kertas dan seperti inilah yang anda bawa dan orang-orang yang duduk dihadapan ini semua sebagai saksi sebab semua kisah mimpi itu telah saya jelaskan kepada mereka”. Akhirnya beliau itu bai’at masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah.

Sebuah kisah yang terjadi di Amerika, muballigh disana telah menulis ada sebuah famili dari Mexico terdiri dari 5 orang, nama perempuan dari famili itu Jorido Marilo, dipangginya Mori. Sekalipun mereka ini orang-orang Katholik tapi tidak mengamalkan ajaran agama itu. Ketika beliau berumur 27 tahun jatuh sakit dan dibawa ke Hospital dan selalu berdo’a kepada Tuhan Yang Tunggal. Katanya pada waktu di Hospital saya melihat gambar Hazrat Masih Mau’ud didalam mimpi dan gambar beliau itu berada didalam dinding cermin. Saya coba sentuh gambar beliau itu dengan harapan saya bisa sembuh dari penyakit saya. Dan sungguh betul saya menjadi sembuh dari penyakit saya setelah menyentuh gambar beliau itu dan semenjak itu saya tidak pernah jatuh sakit lagi. Dan gambar (photo) itu begitu mengesankan sehingga tidak bisa saya lupakan. Selanjutnya berkata “Saya berjumpa dengan seorang perempuan Ahmadi Mexico, beliau memberi sebuah buku kepada saya untuk dibaca sambil memperkenalkan Ahmadiyah kepada saya. Didalam buku itu saya melihat gambar Hazrat Masih Mau’ud Setelah melihat gambar beliau itu saya menangis terharu dan timbul rasa syukur kepada Allah sehingga saya langsung menerima kebenaran beliau dan bai’at bersama suami dan semua anak-anak saya. Alhamdulillah !! Beliau ini seorang wanita terpelajar dan sangat cerdas sekali.

Seorang Muballigh di Bulgaria juga telah menulis sepucuk surat mengatakan, seorang Kristen sudah lama sedang ditablighi. Isteri beliau sudah bai’at lebih dulu namun suaminya ini belum bersedia bai’at sebabnya keluarga suaminya itu orang-orang Kristen yang kuat dan bertugas menjaga Gereja. Pada tahun 2005 beliau diundang menghadiri Jalsah di Germany, beliau sangat terkesan oleh suasana jalsah itu namun beliau belum bersedia untuk bai’at. Pada suatu hari beliau datang dan berkata kepada saya; Sekarang saya mau bai’at dan saya mau menjadi orang Ahmadi. Saya tanya kenapa begitu cepat mau bai’at, apa sebabnya? Katanya sudah dua malam terus menerus saya bermimpi bertemu dengan Hazrat Khalifatul Masih Khamis – Mirza Masroor Ahmad, dan berkata kepada saya ; “Jika engkau tidak mau datang saya sendiri akan datang kepada engkau. Beliau datang kerumah saya sehingga saya merasa malu kepada beliau. Setelah melihat mimpi itu saya cepat datang kesini untuk bai’at. Demikianlah caranya Allah swt memberi hidayah kepada hamba-Nya yang Dia sukai.

Dari Kuwait seorang bernama Abdul Aziz Sahib mengatakan ; Pada malam Eid saya mimpi melihat Hazrat Masih Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad) Dalam mimpi itu saya seolah-olah sedang mengerjakan soal-soal ujian. Hazrat Masih Mau’ud mendekati saya dan memegang kertas ujian itu. pada waktu itu orang-orang nampak banyak sekali yang sedang mengerjakan ujian. Huzur memberi tanda tick pada kertas kertas ujian saya. Setelah itu saya lihat diri saya berada di Mesjid dan nampak banyak sekali orang-orang sedang berkumpul dan Hazrat Khalifatul Masih Khamis atba (Mirza MAsroor Ahmad) juga ada disana dan beliau sedang melihat kearah saya. Didalam mesjid ramai orang duduk dan tengah melakukan bai’at. Lalu saya mendekat kesana dan duduk lalu ikut bai’at bersama-sama disana.

Dari Moscow Muballigh kita menulis bahwa pada tanggal 27 Mei Hidayatullah Sahib datang ke Mission House beliau ingin bai’at masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah. Beliau berkata “Hari ini Tuan harus mengambil bai’at saya, sebab tadi malam saya mimpi Hazrat Masih Mau’ud datang kepada saya, saya tidak mau mengundur-undurkan waktu lagi!! Beliau menjelaskan mimpinya dengan suara berat dan penuh perasaan haru. Beliau berjumpa dengan Hazrat Masih Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad). dan berkata kepada beliau: Peganglah tangan-ku kuat-kuat supaya engkau jangan binasa. Lalu saya berkata kepada beliau “Bagaimana saya harus pegang tangan Huzur, saya tidak mempunyai kekuatan. Maka beliau sendiri telah memegang tangan saya dengan kuat sekali.”

Dari Burkinafaso Ishaq Sahib mengatakan bahwa didalam sebuah mesjid Ghair Ahmadi seorang Imam memberi khutbah menentang Jema’at Ahmadiyah dan dia sangat keras melarang mendengar siaran Radio Jema’at. Para Ulama tidak mempunyai senjata lain kecuali mengatakan kepada orang-orang awam “Jangan mendengarkan siaran Radio orang-orang Ahmadiyah”. Seperti cara-cara orang Mekah dizaman permulaan Islam. Katanya, jika kami tidak mendengarkan Radio orang-orang Ahmadiya bagaimana kami bisa mengetahui perkara yang benar? Imam masjid itu berkata: “Tidak ! Sama sekali jangan mendengarkan Radio mereka!’ Selanjutnya Ishaq Sahib mengatakan “Saya terus berusaha mencari jalan bagaimana menghilangkan keraguan saya. Akhirnya saya usulkan didepan Imam dan orang lain juga ramai ada disana, yaitu tulislah semua nama firqah (Golongan) yang ada dinegeri Burkinafaso masing-masing diatas secarik kertas untuk diadakan undian, lalu akan disuruh seorang anak untuk mengundinya. Nanti nama firqah apapun yang keluar pasti ia benar. Maka mulailah diundi, salah satu kertas diambil oleh seorang anak disaksikan oleh semua yang hadir. Ketika dibuka ternyata keluar nama Ahmadiyah. Namun melihat demikian Imam Masjid tidak merasa puas dan ia menyuruh untuk diundi sekali lagi. Kedua kalinya diundi lagi, maka keluarlah nama Jema’at Ahmadiyah lagi. Kedua kalinyapun Imam Sahib tidak merasa puas. Sampai tiga kali diundi tetap nama Jema’at Ahmadiyah yang keluar. Imam Mesjid merasa sangat gelisah dan malu, namun peristiwa itu menambah kuat keyakinan Ishaq Sahib, lalu beliaupun beriman dan bai’at.

Ada lagi peristiwa seperti itu, Amir Jema’at Burkinapaso menulis katanya, pada tahun 2004 ketika Khutbah Jum’ah saya disiarkan di TV seorang teman ghair Ahmadi menelpon menyatakan ingin berjumpa dengan saya. Diwaktu berjumpa ia mengatakan bahwa setelah mendengar khutbah Jum’ah itu saya telah mengadakan perobahan yang cukup besar pada diri saya. Oleh sebab itu saya ingin bai’at dan masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah. Demikianlah Allah swt menyediakan sarana atau jalan untuk hamba-Nya agar mendapat hidayah.

Di Bosnia juga ada seorang pemuda yang sedang ditablighi masuk Jema’at karena mimpi. Anak muda itu sendiri telah menulis surat menceritakan kisah mimpinya. Katanya saya mimpi sedang berjalan disebuah kota besar, disana sedang terjadi keributan. Disana saya lihat banyak sekali orang-orang Islam, Yahudi, Kristen dan lain-lain sedang berjalan berpusing-pusing dalam keadan gelisah melewati lorong-lorong yang kotor nampaknya mereka sedang kehilangan jalan. Tiba-tiba pandangan saya tertuju kearah sebelah kanan, apa yang saya lihat, sebatang pohon yang sangat rindang dan indah sekali. Dibawah pohon itu terlihat orang-orang sedang bekerumun diantaranya ada yang memakai pakaian putih dan memakai sorban. Sekalipun suasana sedang ribut namun mereka nampak tengah berkumpul dengan tenang sekali dan air muka mereka nampak berseri-seri. Dalam mimpi itu juga saya berkata didalam hati saya : “Mereka ini pasti orang-orang Ahmadi. Saya mendekati mereka dan berusaha menggabungkan diri dengan mereka. Setelah melihat mimpi itu sayapun terus ba’ait masuk Jema’at Ahmadiyah.” Tidak terhitung banyaknya kisah-kisah seperti ini terjadi diberbagai negara didunia berkaitan dengan kebenaran Jema’at Ahmadiyah.

Muballigh Fiji telah menulis sebagai berikut : Ada seorang Hindu berumur 16 tahun, dia sudah kawin dengan seorang perempuan Islam yang berasal dari Hindu. Kami datang untuk berjumpa dirumah mereka, namun pada waktu itu isterinya tengah tidur karena sakit. Suaminya sambil menangis menceritakan sebuah mimpi katanya; “Ada dua orang datang kepada saya, orang-orangnya pakaian-pakaiannya, topi-topinya persis seperti yang Tuan-tuan pakai ini. Mereka mengajak saya untuk masuk Islam.” Sesudah melihat mimpi itu diapun bai’at masuk Jema’at.

Di Jerman ada Muslim Kurdi bernama Kassim Dall isterinya orang Jerman beserta anak-anak perempuannya datang ke Tabligh Stall Jema’at. Dia mulai berbicara tentang gambar (photo) Hazrat Masih Mau’ud a.s. Di bilang : Siapa yang bisa datang setelah Nabi Muhammad saw ? Setelah berbincang-bincang selama 15 minutes mereka diajak makan bersama. Setelah itu diadakan diskusi tabligh dan dihadiahkan kepadanya dua buah buku Jema’at untuk dibaca. Setelah dua hari dia telephone saya, katanya buku yang diberikan kepada saya tidak saya baca dan sudah saya bakar sebab Maulvi kami berkata jangan membaca tulisan apapun dari Jema’at Ahmadiyah. Saya jawab tidak apa-apa, anda datanglah lagi pada hari Kamis, persahabatan kita tidak boleh putus walaupun anda percaya ataupun tidak percaya. Maka datanglah dia pada hari Kamis itu dan ia sedang berpuasa. Sekarang dari rumah orang Ahmadi tidak akan makan makanan apapun katanya. Perbincangan sangat panjang dengannya akhirnya sampailah waktu untuk dia berbuka puasa. Makananpun disediakan dan diapun akhirnya terpaksa makan juga. Saya katakan kepadanya, dalam masalah kebenaran janganlah anda mendengar kata-kata Maulvi. Tentang kebenaran Hazrat Masih Mau’ud berdo’alah selama 40 hari kepada Allah swt dengan hati bersih, selama waktu itu hilangkan kebencian dari dalam hati anda, kosongkan hati anda dari bermacam perasaan yang tidak baik. Katanya baru sampai pada hari ketiga dia telephon menanyakan apakah ada photo Hazrat Khalifatul Masih Khamis? Dijawab ya ada! Katanya lagi “Saya tinggalkan pekerjaan sekarang juga saya mau datang untuk mengambil photo itu. Saya tanya apa sebabnya ? Saya mendengar suara ghaib katanya, “ Sekarang kamu minta bukti ? Bukti sudah Aku beritahukan kepada kamu” Dan dia ceritakan mimpinya juga katanya saya (Huzur) sedang memimpin sebuah lasykar dan Malaikat juga bersama saya. Akhirnya orang itu yaitu Kassim Dall bai’at masuk Jema’at. Alhamdulillah !

Demikianlah beberapa kisah dan peristiwa tentang orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah swt untuk menerima kebenaran. Sesungguhnya banyak sekali, tidak terhitung banyaknya kisah dan peristiwa semacam itu didalam Jema’at diseluruh dunia. Diantaranya sudah diceritakan diwaktu Jalsah salanah. Sekarang waktu sangat sempit tidak mungkin bisa diceritakan semuanya. Mula-mula saya fikir di Qadian juga akan diceritakan peristiwa-peristiwa menarik semacam itu namun tidak dapat kesempatan untuk pergi kesana. Demikianlah caranya Allah swt memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya yang Dia sukai dan sampai sa’at ini terus berlangsung pertolongan dan dukungan terhadap kebenaran da’wa Hazrat Masih Mau’ud.

Dikutip dan diringkas dari: Ahmadiyah.info
Diposkan oleh muhammad jamil bakr di 19:21
Label: kisah

Senin, 28 September 2009

http://kamsolk.blogspot.com/2009/09/kisah-orang-orang-yang-masuk-ahmadiyah.html

Diterbitkan di: on November 11, 2009 at 8:49 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

093010 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend) (Bagian ke 2)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

RINGKASAN KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 30 Oktober 2009 dari Baitul Futuh London UK`
TENTANG : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend)
(Bagian ke 2)

Didalam khutbah ini Huzur melanjutkan pembahasan tentang sifat Allah swt Al Wali (Sahabat). Allah swt telah mengingatkan orang-orang beriman dan orang tidak beriman terutama para penyembah berhala didalam Alqur’an surah Al Ra’d ayat 12 sebagai berikut :
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال
Artinya : Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia.
Didalam ayat tersebut Allah swt telah menjelaskan empat macam perkara :
a. Allah swt telah mengambil tanggung jawab sendiri untuk melindungi setiap orang.
b. Dia memberi keputusan tentang suatu bangsa sesuai dengan prilaku mereka.
c. Apabila Allah swt telah menganggap sesorang sudah patut dihukum, tidak ada kekuatan lain yang bisa mencegahnya.
d. Dia sendiri adalah Penolong, Penjaga, Pelindung dan Sahabat yang paling benar dan setia.
Hazrat Masih Mau’ud a.s. sambil menjelaskan maksud sesungguhnya pada permulaan ayat tersebut ini لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya bersabda : “ Allah swt telah menetapkan para pengawal untuk menjaga hamba-hamba-Nya disetiap penjuru baik secara zahiri maupun secara ruhani. Yang paling utama Allah swt menetapkan para pengawal atau penjaga itu bagi para Utusan-Nya khasnya bagi Hazrat Rasulullah saw. Setelah kelahiran beliau kedunia, beliau telah menjadi wujud yang paling dikasihi dan disayangi oleh Allah swt sampai kepada masa akhir hayat beliau saw. Allah swt telah menyempurnakan semua perkara itu pada wujud beliau saw dengan sangat luar biasa sehingga tidak ada tara bandingannya. Situasi kehidupan beliau di Mekkah telah diketahui oleh semua, bagaimana Allah swt telah menolong dalam setiap langkah beliau dengan sangat luar biasa cemerlangnya. Surah Ar Ra’d tersebut diturunkan kepada beliau dalam suasana di Mekkah yang sangat mencekam disa’at usaha-usaha lawan yang memusuhi beliau sudah mencapai taraf yang paling membahayakan dan telah melampaui batas kemanusiaan. Kita juga mempunyai sebuah pemandangan zahiri dan bathini peristiwa Perang Badar yang sangat mengerikan dan luar biasa hebatnya dimana Allah swt sesuai dengan janji-Nya telah menurunkan pertolongan-Nya secara luar biasa kepada Hazrat Rasulullah saw, sehingga bagaimanapun kerasnya kehendak musuh untuk menghancurkan beliau beserta para sahabah beliau tidak berhasil.
Amir Ibnu Tufail seorang tokoh dan pimpinan penyembah berhala datang kepada Hazrat Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau : “ Wahai Muhammad !! Apabila saya menjadi muslim apakah saya bisa menjadi Khalifah pengganti engkau setelah engkau wafat ? Maka Rasulullah saw menjawab : “ Takhta Khilafat tidak akan pernah turun kepada seseorang yang memberi persyaratan demikian dan juga tidak akan turun kepada pengikutnya.” Mendengar demikian dia menjadi marah dan berkata : “Aku akan membawa lasykar berkuda yang sangat berpengalaman yang akan memberi pelajaran dan menghancurkan Muhammad (saw)” Na’uzubillah !! Nabi Muhammad saw bersabda : “ Tuhan tidak akan pernah memberi taufiq untuk berbuat demikian !” Maka ia beserta temannya pergi dari sana, dan Rasulullah saw-pun membiarkan mereka pergi. Diperjalanan temannya itu berkata : “ Mari kita kembali lagi ketempat Muhammad dan aku akan mengatur siasat, aku akan mengajak dia untuk berbicara dengan-ku, disa’at itu kamu hunuslah pedangmu dan seranglah lalu bunuhlah dia !” Dia menjawab : “ Cara begini sangat berbahaya. Jika aku berhasil membunuhnya maka sahabat-sahabatnya pasti akan mengejar-ku dan membunuh-ku!” Temannya yang sudah dirasuk syetan itu semakin menghasutnya dan berkata : “ Jangan takut kita akan memberi wang tebusan kepada mereka itu, setelah berhasil membunuh Muhammad !” Maka Amir Bin Tufail itu setuju dengan saran temannya itu dan kembali menuju Hazrat Rasulullah saw. Dan setibanya dihadapan Rasulullah saw teman Amir Bin Tufail itu mulailah bercakap-cakap dengan Rasulullah saw dan Amir Bin Tufailpun yang tengah berdiri dibelakang Rasulullah saw mulai menghunus pedangnya. Namun setelah ia berhasil menghunus pedangnya itu timbul didalam hatinya rasa takut yang menggetarkan hatinya dan tertegun sejenak sehingga tangannya tidak mampu mengayunkan pedangnya itu untuk membunuh Hazrat Rasulullah saw. Disa’at itu Hazrat Rasulullah saw berbalik kebelakang dan memandang Amir Bin Tufail yang sedang memegang pedang terhunus ditangannya. Dan Rasulullah saw faham apa yang dimaksud oleh Amir Bin Tufail itu dan mereka-pun berdua mundur dari sana, lalu pergi meninggalkan Rasulullah saw. Dan Rasulullah saw pun membiarkan mereka berdua pergi dan sedikitpun tidak mengucapkan sebarang perkataan terhadap mereka berdua. Namun Allah swt Yang Maha Kuasa telah mnjatuhkan hukuman terhadap mereka berdua. Ditengah perjalanan turun hujan dan temannya itu telah disambar petir sehingga mati dan hancur binasa, sedangkan tentang Amir Bin Tufail dikatakan bahwa dia mati setelah diserang oleh penyakit bisul yang mengerikan.
Banyak sekali peristiwa serupa yang telah terjadi terhadap diri Hazrat Rasulullah
saw yang menunjukkan bahwa Allah swt betul-betul telah memberi perlindungan dan keselamatan yang khas sesuai dengan janji-Nya melalui para Malaikat-Nya terhadap wujud suci Rasulullah saw dari maksud-maksud jahat pihak lawan yang memusuhi Hazrat Rasulullah saw. Peristiwa-peristiwa demikian telah mewarnai seluruh masa kehidupan beliau saw sehingga nampak jelas sekali bahwa Allah swt melalui para Malaikat-Nya telah menjaga dan melindungi beliau saw. Janji Allah swt yang turun di Mekkah itu telah diperlihatkan kesempurnaannya untuk meyakinkan dan menenteramkan hati beliau ketika terjadi penyerangan dan pengepungan terhadap kota Madinah, dengan firman-Nya : وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia. Tentang itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Hazrat Rasulullah saw selamat dan terlindung dari usaha pembunuhan manusia merupakan sebuah mu’jizah yang sangat luar biasa besarnya, dan merupakan bukti nyata kebenaran Kitab Suci Alqur’an, sebab nubuwatan ini : وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia tercantum didalam Kitab Suci Alqur’an dan nubuwatan ini tercantum didalam Kitab-kitab sebelumnya juga bahwa Nabi akhir zaman tidak akan dapat dibunuh oleh siapapun juga.”
Huzur bersabda tentang ; mereka menjaganya atas perintah Allah artinya pertama, melalui para Malaikat Rasulullah saw selalu dijaga dan dilindungi dari kejahatan manusia dan keduanya Allah swt menanamkan semangat kecintaan yang mendalam didalam hati orang-orang mukmin sehingga mereka setiap sa’at siap mengurbankan jiwa raga mereka untuk melindungi dan menjaga Rasulullah saw. Semangat kecintaan itu timbul didalam hati orang-orang mukmin setelah mereka beriman kepada Hazrat Rasulullah saw. Para sahabah menjaga dan melindungi Hazrat Rasulullah saw kerana Allah swt telah menamkan iman yang hakiki didalam hati mereka dan mereka lakukan hal itu semua semata-mata demi meraih keridhaan Allah swt. Allah swt telah menyelenggarakan perlindungan seperti itu terhadap Rasulullah saw lebih dari pada terhadap Nabi atau Rasul yang lain. Akan tetapi salah satu arti dari pada itu adalah bahwa bisa juga perlindungan Tuhan itu berlaku terhadap siapapun, sebab Allah swt telah mengatur sistim penjagaan dan perlindungan bagi setiap orang atau setiap manusia. Misalnya walaupun tidak ada penyakit yang tengah menular, namun didalam udara terdapat berbagai jenis kuman atau bakteri yang bisa masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan. Untuk itu Allah swt telah menaruh sistim penjagaan didalam tubuh setiap orang, yang mampu mencegah pengaruh buruk sebagian kuman atau bakteri yang terhirup dari udara melalui pernafasan manusia. Disamping itu Allah swt memberi perlindungan terhadap para wali-Nya atau para Utusan-Nya bahkan terhadap para pengikutnya yang khas melalui para penjaga yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri.
Pada zaman sekarang ini kita telah mengetahui merebaknya serangan wabah penyakit pes atau tha’un dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk membuktikan kebenaran da’wa beliau sebagai Utusan Tuhan. Dan hal itu telah membuktikan adanya perlindungan khas dari Allah swt terhadap para pengikut beliau a.s. dari serangan wabah penyakit berbahaya itu. Didalam Kitab Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Akan tetapi dengan segala hormat, kami ingin mengatakan kepada Pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tidak ada rintangan samawi, maka kamilah yang pertama-tama diantara semua warga negara yang akan meminta disuntik untuk mencegah bahaya penyakit pes itu. Rintangan samawi itu adalah, Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan suatu Tanda kasih sayang dari langit kepada umat manusia yang telah beriman kepada Utusan-Nya dizaman ini, mereka akan dilindungi dari bahaya wabah pes atau tha’un itu. Dunia luas telah menyaksikan bahwa walaupun telah merebaknya wabah pes atau tha’un itu selama enam tahun dinegeri India pada waktu itu, dengan karunia Allah swt tidak ada seorang Ahmady-pun yang terkena serangan wabah pes tersebut.”
Hanya semata-mata adanya perlindungan Allah swt manusia bisa terselamat dari setiap tragedi yang berbahaya dari kehilangan nyawa, harta dan anak-anak atau kehormatan. Jika tidak manusia akan kehilangan akal dan ingatan atau perasaan setelah ditimpa berbagai macam kerugian dan kehilangan yang mengerikan. Hal itu juga merupakan salah satu cara Allah swt untuk memberi perlindungan kepada manusia. Banyak manusia yang tidak mampu atau tidak bijak menyikapi akibat kehilangan atau kerugian disebabkan suatu musibah itu sehingga mengakibatkan penderitaan yang sangat keras. Akhirnya banyak diantara mereka yang kehilangan iman dan keyakinan terhadap Allah sawt. Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menyikapi dengan rasa syukur atas ni’mat Allah swt, jika tidak ada rahmat dan karunia-Nya kehidupan kita tidak mungkin bisa berlanjut. Orang-orang mukmnin apabila menghadapi suatu musibah akan selalu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un !! Kita semua dan apapun yang kita miliki semuanya kepunyaan Allah dan kita semua akan kembali kepada-Nya !! (Al Baqarah : 157) sebagai natijahnya mereka mendapat barkat dari Allah swt dan mereka mendapat perlindungan Allah swt dari akibat buruk musibah atau kesusahan serta kesulitan yang mereka hadapi itu.
Sesuai dengan peraturan alam semua manusia berada dibawah perlindungan Allah swt secara umum, baik yang beriman kepada-Nya maupun yang tidak beriman. Didalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang tidak beriman bahwa, jika mereka terus berlanjut didalam perbuatan kejahatan mereka Allah swt tidak akan memberi perlindungan-Nya lagi terhadap mereka sehingga mereka akan menghadapi kehancuran yang sangat parah. Sebagaimana firman-Nya didalam surah Ar Ra’d ayat 12 berikut ini :
اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Hal ini membuktikan bahwa Allah swt tidak merubah cara memberi pertolongan kepada orang-orang beriman dan soleh dan mereka terus menerima banyak berkat dan rahmat dari pada-Nya. Selama mereka menjadi orang-orang yang baik dan saleh secara perorangan maupun secara keseluruhan dan memenuhi kewajiban terhadap hak-hak Allah swt dan terhadap hak-hak hamba-hamba-Nya maka mereka akan terus menerima banyak berkat dari Allah swt didalam kehidupan mereka. Berkat-berkat dan nikmat Allah swt tidak diturunkan lagi apabila manusia bukan menjadikan Tuhan sebagai wali atau sahabat mereka melainkan mengambil syaitan menjadi wali atau sahabat mereka. Kebaikan mereka lambat-laun akan hilang dan mulailah mereka melakukan kezaliman terhadap manusia. Akibatnya mereka banyak melakukan perbuatan dosa dan perbuatan jahat, merampas dan menjarah harta orang. Sebagai penguasa dipemerintahan mereka mulai melakukan suap-menyuap, melakukan korupsi dan penggelapan harta milik negara dan melakukan pelanggaran yang bertentangan dengan keadilan. Merampas hak-hak orang lain sudah menjadi adat kebiasaan sehingga akhirnya mereka berani membunuh orang atas nama agama. Pada waktu itu Allah swt tidak lagi menjaga dan melindungi mereka sehingga mereka kehilangan berkat-berkat dan nikmat serta karunia dari Allah swt sepanjang kehidupan mereka.
Maksud dari sebagian ayat tersebut bukanlah berarti bahwa Tuhan tidak memperlakukan orang-orang berbuat jahat sebagaimana mestinya, melainkan Allah swt tidak merobah perlakuan-Nya terhadap orang-orang suci dan soleh kecuali mereka sendiri telah mulai melakukan perbuatan-perbuatan buruk sehingga mereka tidak menerima lagi anugerah nikmat, karunia dan berkat-berkat dari Allah swt. Didalam sejarah agama nampak jelas sebagai saksi kepada kita dan Alqur’anpun telah menjelaskannya dihadapan kita bahwa apabila keburukan-keburukan mulai banyak timbul kepermukaan dan kebaikan-kebaikan mulai menghilang dari permukaan bumi maka perlindungan dan pemeliharaan Allah swt-pun menghilang pula. Dimanapun tidak tertulis sebuah jaminan bahwa dengan mengucapkan dua kalimah syahadat oran-orang beriman akan mendapat perlindungan istimewa untuk selamanya dari Allah swt. Untuk mendapatkan perlindungan khas dari Allah swt sesudah beriman, manusia harus melakukan amal-amal soleh sesuai ajaran Agama Islam. Hal ini harus menjadi sumber pemikiran bagi orang-orang muslim dizaman ini terutama mereka yang tinggal dinegara-negara dimana penganiayaan terhadap sesama orang muslim dan terhadap minoritas non muslim tengah berlangsung bahkan semakin meningkat. Perkara berikutnya didalam ayat tersebut diatas harus direnungkan khasnya oleh orang-orang Islam dinegara Pakistan bahkan mereka harus memohon ampun kepada Allah swt yaitu :
وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال
Artinya : Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Apa yang diperlukan oleh mereka adalah mengadakan perbaikan pada diri mereka sebelum keputusan akhir Tuhan turun kepada mereka. Jika memang penduduk negeri Pakistan sungguh-sungguh mempunyai pengertian kepada hal tersebut.
Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa kewajiban orang-orang yang betul-betul menghendaki bebas atau terlepas dari kesusahan dan kemalangan adalah mereka harus mengadakan perobahan yang baik dalam diri mereka. Apabila perobahan dimaksud sudah tercapai maka barkat-barkat dan nikmat serta karunia Allah swt akan segera turun kepada mereka sesuai dengan janji-janji-Nya.
Huzur bersabda bahwa sangat perlu sekali bagi mereka itu untuk merenungkan dengan penuh perhatian terhadap masalah ini terutama untuk memohon ampunan dari Allah swt dan setiap orang Ahmady harus berusaha untuk memberi penerangan dan pengertian tentang itu terhadap orang-orang Muslim disekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Diakhir Ayat tersebut difirmankan : وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال
Artinya : dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Jadi jika tidak ada wujud lain kecuali Allah sebagai Penolong, Yang bisa melindungi kita semua dari setiap gangguan dan serangan Syaitan, maka kita harus mencari Dia dan harus menjadikan-Nya sebagai sahabat atau teman. Dan jika sekalipun umat Islam disana setiap hari menunaikan salat lima waktu dengan patuh, melakukan ibadah puasa dibulan Ramdhan dan puluhan ribu orang setiap tahun menunaikan ibadah Haji, namun tidak menimbulkan sebarang kebaikan bahkan timbul kemunduran dan kehancuran secara nasional, tentu terdapat kekurangan didalam cara menunaikan ibadah mereka terhadap Allah swt. Semoga ummat Islam di Pakistan memahami keadaan sebenarnya yang tengah berlaku disana dan semoga hati mereka runduk sepenuhnya terhadap Allah swt.
Allah swt telah menguraikan masalah tersebut didalam surah Al Anfal ayat 54 sebagai berikut :
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّـعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ‏
Artinya : Yang demikian itu adalah karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Allah swt tidak pernah merampas kembali anugerh nikmat-Nya yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, melainkan manusia sendiri yang mensia-siakan anugerah nikmat-Nya itu dengan melakukan keburukan sehingga menjadikan dirinya bernasib buruk dan malang. Alqur’an tidak semata-mata hanya menceritakan perkara-perkara yang telah berlalu, melainkan menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi orang-orang beriman dimasa sekarang dan mereka harus selalu waspada dan selalu menghargai dan mensyukuri nikmat-nikmat luar biasa yang telah mereka terima dari Allah swt. Allah swt berfirman …
وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِىْ telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas-mu … nikmat ini dan berkat ini telah dianugerahkan kepada kita dalam bentuk Kitab Suci Alqur’an dan kita telah diperintah untuk mengamalkan ajaran-ajarannya didalam peri kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita ikuti semua perintah-Nya ini maka kita sendiri akan menjadi orang-orang yang soleh dan sesuai firman-Nya Dia akan menjadi Penolong kita dan Dia akan menjelma sebagai Maula atau Pelindung kita.
Apakah orang-orang Muslim diseluruh dunia belum juga menyadari mengapa mereka luput dari berkat-berkat firman Tuhan yang artinya : Kamu adalah ummat terbaik dibangkitkan demi kebaikan umat manusia..?? Ummat yang telah diciptakan demi faedah manusia itu, mengapa mereka luput dari nikmat-nikmat dan karunia Allah swt ? Sebab mereka sedang saling bunuh-membunuh satu dengan yang lain. Beberapa hari yang lalu telah terjadi letupan bomb di kota Peshawar yang dikendalikan dari jauh dengan remote control. Lalu terjadi lagi bomb bunuh diri yang disusul dengan pembunuhan terhadap orang-orang Ahmady dan yang lainnya juga atas nama agama. Macam kebaikan apakah yang mereka lakukan ini ? Perkara demikian sangat perlu untuk dipikirkan oleh mereka dan mereka harus merubah pola pikir mereka untuk mengubah sikap kearah kebaikan. Jika tidak, apabila taqdir Tuhan sudah mulai bergerak untuk menghukum mereka, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya atau mencegahnya lagi.
Perbuatan baik orang lain juga harus bisa diambil contoh dan harus menjadi contoh bagi mereka. Orang-orang Ahmady juga harus mengadakan pemeriksaan dan penilaian terhadap diri masing-masing jika sesungguhnya mereka ada dipihak yang benar. Mereka harus selalu mengawasi perilaku orang-orang itu terutama yang tinggal disekitar lingkungan masing-masing. Mereka harus selalu mensyukuri karunia Allah swt yang telah turun kepada mereka. Jika hal itu tetap dipertahankan maka Allah swt akan selalu menjadi Penolong dan Pelindung kita semua sesuai dengan janji-janji-Nya. Dan tidak akan ada yang bisa mengganggu dan menghancurkan Jema’at kita. Oleh sebab itu Allah swt berfirman :
ۚ فَاَقِيْمُوْا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوْا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِؕ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ‌ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْر
Artinya : … Maka dirikanlah salat dan bayarlah zakat dan berpeganglah dengan teguh kepada Allah. Dialah Pemelihara-mu. Maka Dialah sebaik-baik Pemelihara dan sebaik-baik Penolong (Al Hajj : 79) Ini merupakan kewajiban bagi semua orang-oran beriman untuk menunaikan salat karena melalui ibadah salat itu setiap orang bisa berobah menjadi orang yang baik dan saleh. Harta orang-orang beriman bisa menjadi suci bersih dengan membelanjakan sebagian dari padanya dijalan Allah dan berpegang teguh kepada apa yang diperintahkan Allah swt. Dan hal itu bisa memperteguh tauhid dan keyakinan terhadap Allah Yang Maha Tunggal sebagai Penolong dan Pelindung yang sejati.
Didalam surah Al Maidah ayat 56-57 Allah swt berfirman sebagai berikut :
اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ‏– وَمَنْ يَّتَوَلَّ اللّٰهَ وَ رَسُوْلَهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْغٰلِبُوْن
Artinya : Sesungguhnya penolong-penolong-mu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang dawam mendirikan salat dan membayar zakat dan mereka ta’at kepada Allah – Dan barangsiapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai penolong, maka sesungguhnya Jema’at Allah pasti menang. Disini “ beribadahlah hanya kepada Allah” berarti bahwa orang yang sungguh-sungguh dan secara sempurna beriman kepada Allah dan keimanannya benar-benar suci dari setiap jenis pelanggaran. Mereka itulah kumpulan orang-orang yang akan memperoleh kemenangan dan kejayaan dan mereka itulah sahabat-sahabat Tuhan dan Tuhan adalah Sahabat mereka.
Didalam sebuah Hadis Qudsi Allah swt berrfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw “ Barang siapa yang menjadi musuh terhadap sahabat-Ku maka Aku akan nyatakan perang kepadanya. Aku ingin hamba-Ku mendekat kepada-Ku melalui apa yang telah diwajibkan kepadanya. Hamba-Ku yang selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku melalui nawafil sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi matanya dengan mana ia biasa melihat, Aku menjadi tangannya dengan apa ia memegang, Aku menjadi kakinya dengan apa ia berjalan. Jika ia memohon sesuatu dari pada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Jika ia memohon perlindungan-Ku pasti Aku beri perlindungan kepadanya. Aku tidak mempunyai keraguan sedikitpun tentang hamba-Ku mecuali ketika Aku akan mencabut nyawa seorang mukmin. Ia tidak suka kematian dan Aku juga tidak suka memberi kesulitan terhadap hamba-Ku” Demikianlah perhatian dan perlindungan Tuhan terhadap hamba-Nya yang beriman. Jika manusia mengamalkan setiap perintah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kecintaan maka Tuhan akan menjadi Maula-nya (Pelindngnya). Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menjadi orang-orang soleh yang selalu mendekatkan diri kepada Maula kita yang sejati sehingga kita sentiasa menerima pertolongan-Nya dan perlindungan-Nya dalam setiap langkah kehidupan kita. Amin !!!
Alih Bahasa : Hasan Basri

Tanda-tanda Abadi Kebenaran Islam

Tanda-tanda Abadi Kebenaran Islam PDF Print E-mail
Feb 15, 2009 at 05:15 PM

Sifat-sifat agama Islam sebagaimana telah kami kemukakan bukanlah sesuatu yang dibuktikan dengan hal-hal di masa lalu saja seperti sisa-sisa reruntuhan makam-makam kuno. Islam bukanlah agama yang mati dimana orang bisa mengatakan bahwa semua berkatnya telah tertinggal di masa lalu dan tidak ada apa-apa lagi tersisa di masa depan. Sifat utama dari Islam adalah berkat yang selalu mengikutinya yang tidak hanya terpaku di masa lalu tetapi juga memberikan berkat di masa kini. Dunia ini selalu membutuhkan berkat dan tanda-tanda samawi. Dunia membutuhkannya tidak hanya di masa lalu tetapi juga di masa kini.

Seorang manusia yang lemah tanpa daya yang terlahir buta selalu membutuhkan keterangan tentang kerajaan surga dan ia perlu melihat beberapa tanda dari eksistensi dan kekuasaan Tuhan, kepada Siapa ia beriman. Tanda-tanda yang diberikan di masa lalu tidak mencukupi bagi masa kini, karena mendengar saja tidak sama dengan melihat sendiri, mengingat dengan berjalannya waktu maka kejadian-kejadian masa lalu berubah bentuk menjadi hikayat. Setiap abad dimulai dengan dunia yang baru. Karena itu Tuhan dalam agama Islam, yang adalah Tuhan yang sebenarnya, memanifes-tasikan tanda-tanda baru bagi setiap dunia yang baru. Di awal abad yang baru, khususnya pada awal abad dimana manusia sudah sangat jauh melenceng dari agama, integritas dan yang terselubung kegelapan, Dia akan membangkitkan seorang Nabi substitusi yang dalam cerminan daripada sifatnya akan diperlihatkan sebagai seorang Nabi. Sosok demikian itu menunjukkan kepada dunia segala kemuliaan dari Nabi panutan dimana ia menjadi pengikutnya, dan mengalah¬kan lawan melalui kebenaran, penampakan daripada realitas serta penggagalan kepalsuan. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 245-247, London, 1984).
* * *
Tanda dari sebuah agama yang benar adalah melalui ajarannya itu setiap orang yang muttaqi akan berhasil mencapai tingkatan seorang Muhaddas kepada siapa Allah s.w.t. akan berbicara bertatap muka. Tanda utama dari kebenaran Islam bahwa melaluinya akan muncul para muttaqi dengan siapa Allah s.w.t. akan berbicara sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an:

“Malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil meyakinkan mereka: “Janganlah kamu takut dan jangan pula berduka cita”“. (S.41 Fushshilat:31).
Ini menjadi sarana pengujian dari suatu agama yang benar, hidup dan bisa diterima. Kita tahu bahwa Nur ini hanya bisa ditemukan di dalam Islam dan bahwa agama Kristen tidak ada memiliki Nur demikian. (Hujjatul Islam, Amritsar, Riyadh Hind Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 6, hal. 43, London, 1984).
* * *
Kami bisa memberikan bukti yang konklusif kepada setiap pencari kebenaran bahwa sejak masa Penghulu dan Junjungan kita Rasulullah s.a.w. sampai dengan hari ini, pada setiap abad telah muncul hamba-hamba Allah melalui siapa Allah s.w.t. telah membimbing umat manusia melalui penampakan tanda-tanda samawi. Di antaranya adalah Sayid Abdul Qadir Al-Jailani, Abul Hassan Kharqani, Abu Yazid Bistami, Junaid Baghdadi, Mahyuddin Ibn Arabi, Dhanun Misri, Muinuddin Khisti Ajmeri, Qutbuddin Bakhtiar Khaki, Fariduddin Pakpattani, Nizamuddin Dehlavi, Shah Waliullah Dehlavi dan Sheikh Ahmad Sirhindi, semoga Allah berkenan atas mereka semua.
Jumlah mereka beribu-ribu orang dan demikian banyak kejadian-kejadian luar biasa berkaitan dengan mereka yang diuraikan dalam kitab-kitab para cendekiawan dimana lawan yang paling fanatik pun akan mengakui bahwa mereka itu telah memperlihatkan tanda-tanda dan mukjizat luar biasa. Aku berkata dengan sesungguhnya bahwa dari hasil telaah yang aku lakukan sepanjang yang mungkin dilakukan mengenai masa lalu, aku telah sampai pada kesimpulan bahwa jumlah dari tanda-tanda samawi yang mendukung Islam dan sebagai kesaksian atas kebenaran Yang Mulia Rasulullah s.a.w. yang dimanifestasikan melalui para Aulia umat ini, tidak bisa dipadankan dengan sejarah dari agama lain mana pun. Islam adalah satu-satunya agama yang berkembang melalui tanda-tanda samawi dan Nur serta berkat yang tidak mungkin dibilang, yang memperlihatkan eksistensi Allah s.w.t. seolah-olah Dia itu dekat sekali.
Yakinlah kalian bahwa dalam bilangan tanda-tanda samawi, Islam selalu unggul di tiap masa. Dalam masa kalian kini, kalau mau kalian juga bisa menyaksikan tanda-tanda yang mendukung Islam. Bisakah kalian secara jujur mengatakan bahwa kalian tidak ada menyaksikan tanda-tanda yang mendukung Islam dalam masa kalian? Adakah agama lain di dunia yang mampu memberikan kesaksian seperti itu? Hal ini merupakan masalah berat yang telah mematahkan tulung punggung para missionaris Kristen. Ia yang mereka tegakkan sebagai tuhan tidak didukung oleh apa pun kecuali dongeng-dongeng kosong dan kisah-kisah palsu.

Tanda kebenaran dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. yang mereka tolak, jelas terlihat di masa kini seperti curahan hujan yang lebat. Bagi para pencari kebenaran, semua pintu gerbang tanda-tanda samawi tetap terbuka sekarang sebagaimana juga selalu terbuka di masa lalu, dan bagi mereka yang lapar akan kebenaran maka hidangan berberkat selalu tersedia di masa kini sebagaimana di masa lalu juga tersedia. Sebuah agama yang hidup tersedia di masa kini sebagaimana adanya di masa sebelumnya. Sebuah agama yang benar selalu memiliki tangan Tuhan yang Maha Hidup menopang dan menggamit punggungnya dan agama itu adalah Islam. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 91-92, London, 1984).
* * *
Jika ada yang mempertanyakan bahwa terdapat ratusan agama palsu yang telah berkembang selama beribu tahun meskipun mungkin bersumber pada kebohongan, jawabannya adalah sebagai berikut. Menurut kami, yang dimaksud kebohongan adalah jika seseorang secara sengaja menyusun kata-kata atau menciptakan sebuah kitab, yang diakukan sebagai diwahyukan kepadanya oleh Tuhan yang Maha Kuasa padahal tidak ada apa pun yang diturunkan kepadanya. Kami bisa memastikan berdasar telaah menyeluruh bahwa kebohongan demikian tidak akan mungkin berkembang di masa apa pun. Kitab Allah menyatakan bahwa mereka yang bersalah melakukan kebohongan terhadap Allah yang Maha Kuasa, akan segera dihancurkan. Kami telah menyatakan bahwa kesaksian yang sama itu dinyatakan juga oleh Taurat, Injil dan Al-Qur’an.
Agama-agama palsu yang kita lihat di dunia sekarang ini seperti agama Hindu atau Parsi, bukan merupakan karangan dari Nabi-nabi palsu. Sebenarnya adalah para pengikut mereka itulah yang atas dasar kesalahannya sendiri telah terperosok menerima aqidah-aqidah yang sekarang ini. Kalian tidak boleh yang menyatakan sebuah kitab yang mengaku sebagai kitab samawi yang diagungkan sekelompok orang sebagai palsu, meskipun mungkin saja diragukan palsu. Kemungkinan yang terjadi adalah telah disalah-artikannya sebuah kitab samawi. Sebuah pemerintahan politis akan segera menangkap seseorang yang mengaku-aku sebagai pejabat negara. Lalu mengapa Allah yang bersifat cemburu terhadap sifat Keagungan dan Kerajaan-Nya, tidak akan menindak seorang pengaku yang palsu?
(Anjam Atham, Qadian, Ziaul Islam Press; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 11, hal. 63-64, London, 1984, catatan kaki).

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:34 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Keindahan Al-Qur’an

PDF Print E-mail
Feb 15, 2009 at 05:46 PM

Pesona dan keindahan AlQur’an
Adalah Nur dan kehidupan setiap Muslim,
Rembulan mungkin kecintaan lainnya
Bagi kami yang terkasih Al-Qur’an semata.

Telah kucari ke berbagai penjuru
Tak bersua sama sekali tandingannya,
Bagaimana tidak ada padanannya
Ia adalah Kalam Suci Tuhan yang Maha Kaya.

Setiap kata di dalamnya berisi kehidupan
Dan sumber mata air tak berkesudahan,
Tak ada kebun yang demikian indah
Tidak juga taman serupanya.

Kalam Allah yang Maha Pengasih
Tak ada bandingannya,
Meski mutiara dari Oman
Atau pun mirah dari Badakshan.

Gimana mungkin kata manusia
Bisa mengimbangi Kalam Ilahi?
Di sini kekuatan samawi, di sana tanpa daya,
Bedanya demikian nyata.

Dalam pengetahuan dan kefasihan
Gimana mungkin manusia mengimbangi-Nya?
Padahal para malaikat pun
Tak berdaya di hadirat-Nya.

Bahkan kaki serangga kecil pun
Tak mampu manusia mencipta,
Gimana mungkin baginya
Mencipta Nur sang Maha Perkasa?

Wahai manusia, perhatikanlah
Keagungan Tuhan yang Maha Akbar
Kendalikan lidah kalian
Jika ada sedikit saja keimanan kalian.

Menganggap ada yang sama dengan Tuhan
Adalah kekafiran pada puncaknya,
Takutlah kepada Tuhan, wahai sayangku
Betapa dusta dan fitnah hal ini.

Jika kalian menerima Ketauhidan Ilahi
Mengapa hati kalian berisi penuh berhala?

Tabir kegelapan apa yang telah menyelimuti hati kalian.
Sesungguhnya kalian telah berdosa
Bertaubatlah, jika kalian takut kepada Allah.

Aku tidak mengharapkan buruk bagi kalian, saudaraku
Ini hanyalah nasihat sederhana
Hati dan jiwaku adalah persembahan bagi
Siapa pun yang berhati mulia.
(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 198-204, London, 1984).

* * *

Nur dari Al-Furqan
Adalah yang paling cemerlang dari semua sinar,
Maha Suci Dia yang dari-Nya
Mengalir sungai nur ruhani.

Pohon keimanan dalam Ketauhidan Ilahi
Sudah hampir meranggas kering
Ketika tiba mata air murni ini
Muncul dari ketiadaan.

Ya Allah, Furqan-Mu sendiri adalah alam hakiki
Yang berisi segala yang dibutuhkan makhluk ini.

Telah kucari ke seluruh dunia,
Telah kutelusuri semua tempat niaga
Yang kutemukan adalah piala satu ini
Berisi ilmu hakiki sang Ilahi.

Tak ada padanan Nur ini
Di segenap penjuru bumi
Fitratnya unik dalam segala hal
Tanpa tanding di segala bidang.

Semula kukira bahwa Furqan serupa dengan tongkat Musa,
Setelah kurenungi mendalam nyatanya
Setiap katanya adalah al-Masih.

Jika buta mata mereka
Itu kesalahan mereka sendiri,
Padahal Nur ini telah bersinar
Seterang seratus mentari.

Betapa menyedihkan kehidupan
Umat manusia di dunia,
Yang hatinya tetap membuta
Meski tersedia Nur hakiki ini.
(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 305-306, London, 1984).

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:34 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Pintu Pemahaman Ilahi Melalui Al-Qur’an

Kitab Suci Al-Qur’an membukakan tiga pintu bagi pemahaman kebenaran. Yang pertama adalah pintu nalar atau logika. Daya nalar manusia secara sempurna telah dikembangkan untuk mengenali eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya dalam Penciptaan, Ke-Esaan, Kekuasaan, Rahmat dan sifat tegak dengan Dzat-Nya sendiri. Dalam penggunaan daya nalar tersebut ikut berperan logika, fisika, medikal, astronomi, matematika, filosofi dan metoda argumentasi sehingga masalah-masalah yang sulit telah bisa dipecahkan.
Metoda ini luar biasa dan merupakan mukjizat penalaran. Para filosof terkenal yang menemukan logika dan meletakkan dasar-dasar dari filosofi serta menyibukkan diri mereka dengan fisika dan astronomi, nyatanya tidak sanggup memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk mendukung keimanan mereka. Tidak juga mereka mampu memperbaiki kesalahan mereka atau memasukkan kemaslahatan keagamaan kepada yang lainnya. Bahkan sebagian besar dari mereka malah menjadi atheis atau lemah keimanannya, sedangkan mereka yang mempercayai adanya Tuhan lalu mencampur-adukkan kesalahan dengan kebenaran, yang tidak suci dengan yang najis, sehingga akhirnya mereka juga tersesat. Dengan demikian merupakan suatu mukjizat bahwa logika Ilahi ini tidak ada mengandung kesalahan serta memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan mulia yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya.
Merupakan bukti yang cukup bahwa pernyataan-pernyataan Al-Qur’an tentang eksistensi Tuhan dan sifat-sifat-Nya dalam Penciptaan, Ke-Esaan dan sifat-sifat sempurna lainnya bersifat demikian komprehensif sehingga tidak mungkin diungguli dan tidak juga manusia akan mampu memberikan argumentasi baru lainnya. Jika ada yang meragukan hal ini, dipersilahkan yang bersangkutan mengajukan penalaran intelektual yang mendukung eksistensi atau Ketauhidan Ilahi, dimana kami nanti akan menunjukkan bahwa argumentasinya sudah ada di dalam Al-Qur’an atau bahkan lebih baik lagi. Pernyataan dan pujian atas Kitab Suci Al-Qur’an ini tidak semata-mata hanya omongan saja, tetapi sesungguhnya merupakan kenyataan dimana tidak akan ada seorang pun yang akan mampu mengajukan argumentasi baru yang belum diungkapkan di dalam Al-Qur’an. Di banyak tempat, Al-Qur’an sendiri menyatakan sifat komprehensifitas dirinya sendiri.

Pintu kedua pemahaman Ilahi yang dibuka lebar oleh Al-Qur’an adalah mutiara hikmah intelektual yang karena sifatnya yang luar biasa bisa dianggap sebagai mukjizat intelektual. Bentuknya ada berbagai macam. Pertama, pengetahuan mengenai wawasan keimanan, dengan pengertian bahwa semua wawasan luhur yang berkaitan dengan keimanan dan semua kebenaran sucinya serta mutiara hikmah pengetahuan tentang Ilahi yang dibutuhkan di dunia guna penyempurnaan batin manusia, semuanya ada tersedia di dalam Al-Qur’an. Begitu juga dengan semua keburukan batin yang merangsang munculnya keinginan melakukan dosa dan nafsu yang melambarinya serta cara-cara pensucian batin berikut semua tanda-tanda, karakteristik dan sifat-sifat daripada akhlak luhur. Tidak ada seorang pun yang akan mampu mengemuka¬kan kebenaran, hikmah Ke-Ilahian, cara-cara mencapai Tuhan, bentuk atau disiplin suci ibadah Ilahi lainnya yang belum termaktub di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kedua, di dalamnya juga terkandung pengetahuan mengenai tentang sifat-sifat batin dan tentang psikologi yang terdapat secara komprehensif dalam firman ajaib ini sehingga mereka yang mau berpikir akan sampai pada kesimpulan bahwa Kitab ini bukanlah hasil kerja siapa pun kecuali Allah yang Maha Perkasa. Ketiga, di dalamnya terkandung ilmu mengenai awal dunia, mengenai akhirat dan hal-hal tersembunyi lainnya yang merupakan bagian pokok dari firman Allah yang Maha Mengetahui tentang hal-hal yang tersembunyi sehingga hati manusia akan tenteram jadinya.
Semua pengetahuan demikian akan bisa ditemui banyak sekali dan secara rinci di dalam Kitab Suci Al-Qur’an sehingga tidak ada Kitab samawi lainnya yang akan mampu menyamainya. Disamping itu Al-Qur’an juga mengungkapkan pengetahuan keimanan dari subyek lainnya dengan cara yang indah. Dalam hal ini, Kitab tersebut tetap memperhatikan logika, fisika, filosofi, astronomi, psikologi, medikal, matematika dan pengetahuan tentang komposisi yang digunakan untuk menguraikan dan menjelaskan pengetahuan tentang keimanan, guna memudahkan pemahamannya, menarik konklusi daripadanya atau untuk menyangkal keberatan dari orang-orang yang bodoh. Dengan kata lain, semua subyek ini dikemukakan Kitab Suci Al-Qur’an bagi kepentingan keimanan manusia dengan cara sedemikian rupa sehingga setiap bentuk intelektualitas manusia akan dapat menyerap kemaslahatannya.
Pintu ketiga mengenai pemahaman Ilahi yang telah dibukakan Al-Qur’an adalah pintu keberkatan ruhani yang dapat disebut sebagai mukjizat ikutan. Setiap orang yang berpikir mengetahui bahwa negeri kelahiran Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah sebuah semenanjung kecil bernama Arabia yang letaknya terisolasi dari negeri-negeri lainnya. Seorang lawan yang fanatik pun tidak akan bisa menyangkal bahwa sebelum kedatangan Hadzrat Rasulullah s.a.w. bangsa Arab di negeri ini hidup secara liar seperti hewan dan sama sekali tidak mengerti mengenai agama, keimanan, hak-hak Tuhan, hak-hak manusia dan bahwa selama berabad-abad mereka itu tenggelam dalam penyembahan berhala dan ajaran-ajaran kotor lainnya, serta telah mencapai puncak kerusakan dalam kelakuan mereka seperti perzinahan, mabuk minuman keras, perjudian dan segala bentuk kejahatan lainnya.
Mereka ini tidak menganggap sebagai perbuatan dosa pelanggaran atas hak-hak manusia lainnya seperti tindakan pencurian, perampokan, pembunuhan anak-anak atau memakan hak anak yatim. Dengan kata lain, segala bentuk kejahatan, kegelapan batin serta ketidak-acuhan telah menyelimuti hati bangsa Arab. Kemudian setelah itu, mereka para lawan Islam, juga harus mengakui bahwa bangsa yang bodoh, liar dan tidak beriman tersebut lalu memeluk agama Islam dan beriman kepada Kitab Suci Al-Qur’an, dimana mereka selanjutnya mengalami perubahan secara drastis dan menyeluruh. Efektivitas daripada firman Ilahi dan kedekatan dengan sosok suci sang Nabi telah merubah total hati mereka dalam jangka waktu yang singkat, dimana setelah periode kebodohan itu mereka lalu mengalami pengkayaan batin dengan wawasan-wawasan keimanan dan meninggalkan kecintaan terhadap dunia.

Mereka itu demikian fananya dalam kecintaan kepada Allah s.w.t. sehingga mereka bersedia meninggalkan rumah dan keluarga yang dikasihi, kehormatan kedudukan sosial dan keselesaan mereka demi memperoleh ridho Allah yang Maha Agung. Kedua gambaran tentang keadaan awal dan setelah memperoleh kehidupan baru yang didapat dengan menganut agama Islam, semuanya jelas diungkapkan dalam Al-Qur’an sehingga seorang yang muttaqi dan saleh akan berlinang air mata membacanya.
Apakah sebenarnya yang telah menarik mereka dari suatu dunia untuk memasuki dunia lain dalam waktu demikian cepat? Untuk itu ada dua hal yaitu pertama, Hadzrat Rasulullah s.a.w. sangat efektif dalam menerapkan kekuatan suci beliau sedemikian rupa sehingga tidak mungkin bisa dipadani oleh yang lainnya. Kedua, adalah pengaruh ajaib dan luar biasa dari firman suci Allah yang Maha Hidup dan Maha Kuasa yang telah menarik ribuan manusia dari kegelapan kepada pencerahan. Tidak bisa diragukan bahwa pengaruh Al-Qur’an ini merupakan mukjizat karena manusia tidak akan bisa menemukan contoh lain dari pengaruh sebuah Kitab samawi yang sama efektifnya. Siapakah yang dapat memberikan bukti bahwa ada Kitab samawi lain yang dapat membawa perubahan dan pembaharuan demikian besar seperti yang telah dibawa oleh Kitab Suci Al-Qur’an?
Ratusan ribu orang yang telah mengalami bahwa dengan mengikuti Kitab Suci Al-Qur’an maka rahmat Ilahi telah turun ke kalbu mereka dan kemudian tercipta hubungan yang indah dengan Tuhan mereka. Nur dan wahyu Ilahi turun ke dalam hati mereka, sedangkan wacana wawasan dan mutiara-mutiara hikmah meluncur dari bibir mereka. Mereka memperoleh kepercayaan, kepastian serta kenikmatan cinta kepada Tuhan yang dihidupi oleh kegembiraan pertemuan dengan Wujud tersebut. Jika raga mereka misalnya lumat di giling dalam kancah bencana dan dikempa dalam tekanan yang amat kuat, inti pokok yang tersisa dari mereka adalah tetap kecintaan kepada Allah s.w.t. Dunia tidak mengenal mereka, sedangkan martabat mereka berada jauh di atas dunia. Perlakuan Tuhan terhadap mereka sungguh luar biasa. Mereka telah memperoleh bukti kalau Tuhan itu benar eksis dan bahwa Dia itu Maha Esa. Bila mereka berdoa kepada-Nya maka Dia mendengarkan, dan ketika mereka memohon pertolongan maka Dia menolong mereka. Ketika mereka memohon perlindungan kepada-Nya maka Dia berlari menghampiri. Dia mencintai mereka lebih dari cinta seorang ayah kepada anaknya. Dia menurunkan hujan rahmat di atas rumah-rumah mereka. Mereka itu menjadi dikenal karena bantuan yang terbuka dan tersembunyi, duniawi atau pun ruhaniah yang diberikan oleh-Nya. Dia membantu mereka di semua bidang karena mereka itu adalah milik-Nya dan Dia itu milik mereka. Semua hal ini bisa dibuktikan.
(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 72-79, London, 1984).

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:28 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Tulisan Imam Mahdi : Al-Qur’an Menyelaraskan Ilmu dan Agama

Kitab Suci Al-Qur’an penuh sekali dengan segala kebijakan sehingga tercipta keselarasan antara prinsip-prinsip pengobatan keruhanian yaitu prinsip keagamaan, dengan prinsip-prinsip pengobatan jasmani, dimana keselarasan itu sedemikian mulusnya sehingga membukakan pintu kepada ratusan wawasan dan kebenaran. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menafsirkan Al-Qur’an secara benar yang dapat merenungi prinsip-prinsip yang ditetapkan Al-Qur’an dan kaitannya dengan sistem pengobatan jasmani.

Suatu ketika aku diperlihatkan sebuah kashaf tentang beberapa buku dari beberapa tabib medikal ahli, yang berisikan diskusi tentang prinsip-prinsip pengobatan jasmani, termasuk di antaranya buku dari tabib akbar Qarshi7. Disiratkan kepadaku bahwa buku-buku itu mengandung tafsir Al-Qur’an.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat di antara pengetahuan tentang jasmani dengan pengetahuan tentang agama dimana keduanya saling menopang satu sama lain. Ketika aku meneliti Al-Qur’an, ternyata di dalamnya memang ada prinsip-prinsip pengobatan jasmani. (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 102-103, London, 1984).
Last Updated ( Nov 16, 2008 at 03:03 AM )

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:28 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Tulisan Imam Mahdi : Muhammad adalah bukti dirinya sendiri

PDF Print E-mail
Nov 13, 2008 at 09:31 PM

Ada nur indah di wujud Muhammad
Ada permata mirah indah di tambang Muhammad.

Hati akan kalis dari segala kegelapan,
Jika bergabung dengan para pencinta Muhammad.

Kasihan hati mereka yang tak beruntung
Yang memalingkan punggung atas ajakan Muhammad.

Tak ada lagi manusia di dua dunia,
Yang punya makam setara Muhammad.

Tuhan sesungguhnya tidak menyukai
Mereka yang memusuhi Muhammad.

Tuhan sendiri akan membakar belatung tak berharga itu
Yang menjadi musuh dari Muhammad.

Jika kalian ingin bebas dari kelembaman diri yang rendah
Marilah dan ikut barisan pencinta Muhammad.

Kalau kalian ingin Tuhan memujimu,
Jadilah pengagum Muhammad yang sejati.

Jika kau ingin bukti kebenarannya, jadilah pencintanya
Muhammad sendiri adalah bukti dari Muhammad.

Jasadku ingin dikurbankan demi debu di kaki Ahmad,
Hatiku mendambakan mati demi Muhammad.

Demi ikal rambut Rasul Allah,
Mau aku mati demi wujud Muhammad yang cemerlang.

Pancung aku berkeping atau bakar aku hingga mati
Aku tak akan berpaling dari hadirat Muhammad.

Demi keimananku, tak ada satu pun yang aku takuti
Karena aku dicirikan warna keimanan Muhammad.

Betapa mudahnya meninggalkan dunia
Jika teringat keindahan dan kecantikan Muhammad.

Setiap zarah diriku dikurbankan di jalannya
Aku telah menyaksikan keindahan Muhammad.

Aku tak mengenal nama guru lainnya
Aku hanya belajar di sekolah Muhammad.

Aku tak ada urusan dengan kekasih lain,
Aku terperangkap jalan kasih Muhammad.

Aku hanya mendambakan sekilas kerling,
Aku tak butuh apa pun kecuali taman Muhammad.

Jangan cari hatiku yang terenyuh di rongga dadaku,
Aku telah meletakkannya di pangkuan Muhammad.

Aku adalah yang paling gembira dari antara burung surga,
Yang membangun sarangnya di kebun Muhammad.

Engkau telah mencerahkan hati dan jiwaku dengan cinta
Hidupku adalah untukmu, wahai Muhammad.

Sekalipun seratus kali aku mengurbankan hidup bagi dirinya
Tetap saja tak sebanding dengan makam luhur Muhammad.
Begitu mempesona makam yang dikaruniakan kepada pahlawan ini,
Tak akan ada seorang pun berani menandingi Muhammad.

Hati-hatilah kalian, para musuh yang bodoh dan keliru,
Hati-hatilah terhadap pedang tajam Muhammad.

Jalan kepada Tuhan yang dilupakan manusia,
Carilah pada keturunan Muhammad.

Hati-hatilah, kalian yang menyangkal status Muhammad,
dan nur Muhammad yang demikian nyata.

Meski tak lagi ada mukjizat,
Datanglah dan saksikan adanya di antara pengabdi Muhammad.

(Maklumat 20 Februari 1893, Majmua Ishtiharat, vol. 1, hal. 371-372).

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:28 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Jihad Bagi Kemuliaan Yang Maha Tercinta

Wahai Sahabat abadi, Wujud-Mu cukuplah bagiku,
Lorong-Mu lebih baik bagiku daripada seribu taman surgawi.

Meski aku kadang terpaksa menengok ke tempat lainnya,
Segenap waktumataku tetap tertuju kepada-Mu.

Jika ada yang menyerang kehormatanku,
Aku akan bersabar, laiknya Engkau berlaku.

Siapakah aku? Berapa nilai kehormatanku?
Jihadku semata demi kehormatan-Mu.

(Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 153, London, 1984).

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:28 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

MTA (Muslim Television Ahmadiyya)

Dari sebuah studio di London selatan, anggota dari komunitas Ahmadiyah menyiarkan pesan tentang toleransi keseluruh duniia

Di pedalaman selatan London, kubah hijau pucat dari sebuah mesjid nampak jelas, sekilas nampak tak kongruen, diatas bagian dari sebuah restoran tak bernama dan bergaya semi Tudor. Di dasar mesjid terdapat saluran satelit yang terkenal di dunia internasional, mengudara sejak 1992, namun bila anda bukan anggota gerakan Ahmadiyah- sebuah gerakan Islam yang kontroversial yang menggemakan perdamaian, toleransi dan percaya bahwa Al Masih telah datang di abad ke 19- maka mungkin anda belum pernah mendengar tentang saluran tersebut.

Muslim Television Ahmadiyya (MTA) hampir seluruhnya diselenggarakan oleh sukarelawan yang berasal dari komunitas Ahmadiyah. Produser acara Berita Tehmeena Luqman, salah satu dari sedikit staff yang diberi gaji dan satu-satunya pegawai penuh waktu, terlihat merasa sangat tidak enak harus menerima gaji. “Aku memiliki seorang anak laki-laki yang membutuhkan biaya, kalau tidak, aku tidak mau menerima gaji,” katanya. Sebelumnya ia bekerja di ABC, stasiun tv lokal Amerika, sehingga ia terbiasa dengan lingkungan kerja yang serba cepat di bagian berita. “Kita bukannya melakukan lima atau enam siaran berita dalam sehari, bukan tekanan kerja semacam itu – ini tekanan yang berbeda, karena kita melapor pada otoritas/atasan yang berbeda. Atasan tersebut adalah Mirza Masroor Ahmad, kalifah ke 5 Ahmadiyah, yang memonitor seluruh program stasiun tv tersebut.

MTASalah satu tujuan MTA adalah untuk memperkuat kedudukan Ahmadiyah di negara-negara dimana ajaran tersebut mengalami tekanan – Pakistan, Bangladesh dan Indonesia, para pengikut Ahmadiyah telah dibunuh dengan motif agama- selain itu juga memberikan kesempatan kepada para pengikutnya dimanapun diseluruh dunia untuk berhubungan secara instan dengan khalifah. Mereka yang tidak memiliki akses sinyal satelit dapat mengikuti saluran MTA di YouTube. Program acara disiarkan dalam berbagai bahasa, dan seorang penerjemah yang terus menerus menyiarkan khutbah jumat khalifah, seringkali bertugas sebagai mubaligh- seperti Ferouz Alam yang bertugas di Bangladesh. Bagaimana ia mendapatkan calon pengikut yang potensial? “Saya secara langsung mengatakan bawa sekarang kita hidup di zaman Al Masih yang telah dijanjikan oleh mayoritas agama ” katanya, memancarkan ketenangan. “Pada saat bicara dengan umat Kristen, saya mengatakan tentang kedatangan kedua Al Masih, karena Ghulam Ahmad memiliki kualitas yang dimiliki oleh Yesus.”

Di bagian grafis, Ghalib Khan, sedang mengerjakan logo untuk Jalsa Salanah, konferensi tahunan Ahmadiyah yang dihadiri oleh sekitar 30 ribu delegasi. Ia baru saja lulus dari Brunei dengan gelar di bidang desain multimedia dan juga menjadi pembawa acara MTA Real Talk, yang membicarakan hal-hal yang menyangkut anak muda dan multi-kulturalisme, sebagai contoh, ia mengatakan, bagaimanakah Islam di representasikan di media. Aku berfikir, bagaimana kadang-kadang ia merasa terasing dari dua sisi, ia tidak termasuk aliran utama Muslim, bukan juga seorang ateis di tradisi Anglo. “Saya merasa ini adalah yang terbaik dari kedua hal tersebut,” katanya – doa dan struktur Islam yang dikombinasikan dengan kebebasan barat.

Acara Real Talk diadakan di tempat terbuka, tapi kebanyakan acara MTA lainnya direkam di studio Morden dengan background sebuah papan. Keseluruhan kegiatan memancarkan kesan amatir – kepala stasiun, Naseer Ahmad, adalah seorang pebisnis yang memasukan kegiatan mengelola MTA diantara berbagai kegiatannya termasuk bisnisnya di bidang properti dan furniture. “Saya tidak memiliki kualitas lebih dibanding yang lainnya,” katanya tanpa malu-malu. “Saya mempelajari ilmu pertelevisian sambil berjalan.” Kebanggaannya tampak jelas bukan hanya pada stasion TV nya tapi pada Ahmadiyah secara keseluruhan. “Kami sangat menghargai pendidikan, karenanya begitu banyak pengikut Ahmadi yang menjadi hakim dan jendral – di Pakistan, anda akan menemukan banyak Ahmadi pada posisi-posisi tinggi di masyarakat.

Naseer Ahmad percaya, Ahmadi dihujat karena interpretasi mereka mengenai jihad dengan cara damai, dan penolakannya terhadap kebiasaan membayar imam. “Kami menjunjung perdamaian, harmoni dan hidup berdampingan” katanya. “Kami tidak setuju pada peperangan, kekerasan dan bom bunuh diri. Kami dengan praktis dan eksplisit sangat mengutuk kekerasan. Pada pertanyaan bangsa barat,”Dimana Muslim yang moderat?”, kaum Ahmadi berharap dapat menjawab, “Kami disini!” namun masalahnya adalah kebanyakan orang bahkan tidak menganggap Ahmadi sebagai muslim sama sekali.

Alasan ini terpampang dengan penuh kebanggan di dinding ruang kerja Naseer Ahmad – sebuah foto Al Masih Ghulam Ahmad yang dibingkai, inti dari perbedaan teologis antara Ahmadiyah dengan Islam umumnya. Para Ahmadi percaya bahwa Ghulam Ahmad, seorang anak dokter di Punjabi yang lahir tahun 1823, adalah Al Masih yang dijanjikan yang akan menyelamatkan dunia dari dosa. Kebanyakan ulama Islam sangat menentang hal ini – sebuah email yang tajam dari juru bicara Lembaga Muslim di Inggris mengatakan dalam kata-kata yang sangat jelas, “Seluruh pesantren utama dari Suni dan Shia beranggapan bahwa Ahmadi adalah bukan muslim. Ini adalah posisi Ahmadiyah yang sangat umum diantara para pemuka agama Islam.”

Terus berupaya menggali tentang hubungan antara Ahmadiyah dengan Islam umumnya, aku menekan Naseer Ahmad pada masalah ini. “Apabila aku mengatakan pada seorang teman Muslim bahwa aku mengunjungi stasiun TV Ahmadi, kira-kira apa reaksi mereka?” “Tergantung perspektif mereka,” kata Ahmad. “Apabila mereka berasal dari Pakistan dan telah sering mendengar propaganda mengenai Ahmadiyah, maka mereka mungkin tidak suka. Tapi kebanyakan orang di negara ini berpikiran terbuka.” Ia kemudian membawaku berkeliling mesjid yang sekarang sudah kosong. Bangunan dengan karpet mewah, yang bisa menampung 10 ribu jamaah, dan biasanya penuh pada saat khutbah Jumat disiarkan, dimana kata-kata Masroor Ahmad ditayangkan ke seluruh pemirsa MTA diseluruh dunia. Aku bertanya apakah tata cara shalat disini berbeda dengan di mesjid non-Ahmadi. “Setiap detil adalah sama dalam segala hal,” kata Naseer Ahmad. “ Itulah sebabnya, tidak masuk akal kenapa orang mengatakan bahwa kita bukan Muslim.” (Damayanti Natalia)

Sumber: Guardian.co.uk

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:21 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

75 Tahun Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Tujuhpuluh delapan tahun yang lalu negara Indonesia belum berdiri. Saat itu Indonesia Hindia Belanda meliputi wilayah yang persis sama dengan negara Indonesia sekarang ini. Hindia Belanda berada dalam penjajahan Kerajaan Belanda, yang telah menguasai Indonesia sejak abad ke 17. Meskipun demikian, Indonesia – atau dikenal dengan nama Hindia Belanda – pada saat itu sudah merupakan suatu negara besar yang terletak di persimpangan jalur perdagangan dan pemasaran internasional, serta memiliki sumber daya alam yang luar biasa, salah satu yang terbesar di dunia – yang sudah terkenal berabad-abad sebelum masyarakat Eropa mengenal peradaban. Dengan melihat hal ini, tidak mengherankan negara imperialis yang serakah seperti Belanda menduduki dan menjajahnya.

Tujuhpuluh delapan tahun yang lalu, masyarakat Indonesia telah dikenal sebagai masyarakat yang beragama. Sejak abad ke 9, saat masyarakat Eropa masih berkutat dengan kehidupan liar dan barbar serta belum mengenal peradaban yang tinggi, kerajaan-kerajaan Indonesia sudah dikenal sebagai pusat studi agama Budha dan Hindu. Para pelajar datang dari kerajaan-kerajaan di luar negeri, seperti India, Cina, Kamboja, dll. untuk belajar di Universitas Budha di Sumatera Selatan abad ke 9. Ketika Islam masuk ke Indonesia, orang-orang mulai masuk Islam, perlahan-lahan dan kemudian cepat meluas. Ketika orang-orang Eropa datang ke Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia telah masuk Islam. Kemudian Indonesia mulai dikenal sebagai salah satu negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia.

Tujuhpuluh delapan tahun yang lalu, sekalipun masih berada dalam penjajahan Belanda, modernisasi Islam sudah mencapai Indonesia. Para ulama Islam Indonesia, khususnya dari Sumatera Barat mulai mengembangkan pemikiran mereka atas modernisasi Islam. Pengaruh mereka mencapai masyarakat jelata di beberapa negeri, seperti juga pengaruh dari para ulama Islam tradisional berakar di beberapa tempat lain di Indonesia.

Tujuhpuluh delapan tahun yang lalu, tiga pemuda dari Sumatera Tawalib – suatu pesantren Islam di Sumatera Barat – meninggalkan negeri mereka untuk melanjutkan sekolah agama mereka. Mereka adalah (alm) Abubakar Ayyub, (alm) Ahmad Nuruddin, dan (alm) Zaini Dahlan. Mereka masih sangat muda sekali saat mereka pergi, yang paling tua baru berusia duapuluh tahun sementara yang paling muda baru berusia enambelas tahun.

From left to right : Ahmad Nurdin, Abubakar Ayub, Zaini Dahlan

Pada awalnya mereka merencanakan untuk pergi ke Mesir, karena Mesir sudah lama terkenal sebagai pusat studi Islam. Tetapi para guru mereka di Sumatera Tawalib menyarankan mereka untuk pergi ke India, karena India mulai menjadi pusat pemikiran modernisasi Islam. Mereka berangkat secara terpisah, (alm) Abubakar Ayyub berangkat bersama dengan (alm) Ahmad Nuruddin, sedangkan (alm) Zaini Dahlan menyusul kemudian. Ketiga pemuda itu berkumpul kembali di Lucknow, India. Tidak seorang pun dari ketiganya saat itu menyangka – sesuai dengan takdir Ilahi – bahwa keberangkatan mereka akan menjadi satu peristiwa monumental terpenting dalam perkembangan Islam di Indonesia, khususnya bagi Ahmadiyah di Indonesia. Ketiga pemuda Indonesia itu segera sampai di Lahore dan sangat terkesan pada ajaran Ahmadiyah yang banyak mengubah berbagai aspek keimanan dan pemahaman mereka akan Islam, meskipun saat itu mereka mendapatinya dari Anjuman Isyaati Islam atau dikenal dengan nama Ahmadiyah Lahore. Segera ketiga pemuda itu mendapati bahwa sumber dari Ahmadiyah adalah dari Qadian, dan sekalipun ditentang dan dilarang oleh Anjuman Isyaati Islam (Ahmadiyah Lahore), ketiga pemuda itu pergi ke Qadian, pusat Jemaat Ahmadiyah yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Masih Mau’ud. Bukan hal yang aneh ketika ketiga pemuda itu segera baiat di tangan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a., Hadhrat Haji Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a.. Peristiwa baiat ketiga pemuda itu akan mengubah wajah masyarakat Islam Indonesia di masa yang akan datang.

Ketiga pemuda Indonesia itu melanjutkan studi mereka di Madrasah Ahmadiyah.Tidak lama kemudian mereka merasa perlu membagi berkat karunia Tuhan yang telah mereka terima itu dengan rekan-rekan mereka di Sumatera Tawalib. Mereka mengundang rekan-rekan pelajar mereka di Sumatera Tawalib untuk belajar di Qadian. Tidak lama kemudian duapuluh tiga orang pemuda Indonesia dari Sumatera Tawalib bergabung dengan ketiga pemuda Indonesia yang terdahulu, untuk melanjutkan studi juga baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.

Dua tahun setelah orang Indonesia yang pertama baiat ke dalam Ahmadiyah, Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. pergi ke Inggeris untuk menghadiri Seminar Agama-agama di Wembley, kemudian mengadakan kunjungan di Eropa. Setelah Hadhrat Khalifah kembali dari lawatan ke barat, para pelajar Indonesia menginginkan sekali agar negara mereka, Indonesia, mendapatkan karunia dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. melalui khalifahnya. Para pelajar kemudian mengundang Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dalam suatu jamuan teh, yang di dalamnya (alm) Haji Mahmud – juru bicara para pelajar Indonesia – menyampaikan sambutan dalam Bahasa Arab, mengungkapkan harapan mereka bahwa sebagaimana Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. telah mengunjungi barat, mereka mengharapkan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. berkenan mengunjungi ke timur, yaitu ke Indonesia. Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. menjawab dalam Bahasa Arab bahwa mereka jangan khawatir dan berduka cita, karena itu adalah tanda-tanda orang-orang tidak beriman. Dan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. meyakinkan mereka bahwa karena Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah Zulqarnain (yang memiliki dua tanduk), satu mengarah ke barat dan yang lain mengarah ke timur, maka pesan Hadhrat Masih Mau’ud akan mencapai Timur. Dan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. juga meyakinkan mereka bahwa meskipun beliau sendiri tidak dapat mengunjungi Indonesia, beliau akan mengirim wakil beliau ke Indonesia. Kemudian, (alm) Maulana Rahmat Ali r.a. dikirim sebagai muballigh ke Indonesia sebagai pemenuhannya. Pada hari yang dibasahi hujan, pertengahan musim panas tahun 1925, Hadhrat Khalifatul Masih II r.a., Hadhrat Haji Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. memimpin pelepasan (alm) Maulana Rahmat Ali r.a. berangkat ke Indonesia. Pondasi perkembangan Ahmadiyah di Indonesia telah diletakkan.

Perkembangan Ahmadiyah di Indonesia sangat menarik. Tidak seperti perkembangan Ahmadiyah di negara-negara lain, perkembangan Ahmadiyah di Indonesia memiliki suatu hal yang sangat khusus. Orang Indonesia-lah yang meminta Hadhrat Khalifah untuk mengirim muballigh ke Indonesia, untuk menyebarkan Ahmadiyah di Indonesia. Sementara di negara-negara lain, Hadhrat Khalifah-lah yang memutuskan untuk mengirimkan seorang muballigh ke negara tersebut, tanpa mereka minta. Itu merupakan suatu aspek khusus yang harus direnungkan dan diperhatikan oleh semua Ahmadi di Indonesia, dengan menyadari bahwa mereka harus bekerja keras untuk Ahmadiyah, mereka harus mengorbankan diri mereka untuk Islam dan Ahmadiyah, karena rakyat Indonesia-lah yang telah mengundang Ahmadiyah.

Takdir terus bergulir ketika Maulana Rahmat Ali r.a. tiba pertama kali di Tapaktuan, Aceh. Di sana ada beberapa orang Indonesia yang baiat masuk Ahmadiyah. Tidak lama kemudian Maulana Rahmat Ali r.a. berangkat menuju Padang, ibukota Sumatera Barat. Di Padang, titik balik terjadi, banyak kaum intelektual, ulama Islam dan tokoh-tokoh masuk ke dalam Ahmadiyah, demikian pula orang-orang biasa. Dan di Padang-lah pada tahun 1926 Ahmadiyah secara resmi berdiri sebagai suatu jemaat atau organisasi. Pada tahun 1931 Maulana Rahmat Ali r.a. berangkat menuju Jakarta, ibukota Indonesia. Dan perkembangan Ahmadiyah semakin cepat, banyak kaum intelektual, orang terpelajar, tokoh-tokoh terkenal dan masyarakat ningrat masuk ke dalam Ahmadiyah. Dan di Jakarta-lah Pengurus Besar Ahmadiyah didirikan dengan (alm) R. Muhyiddin sebagai Ketua pertamanya. Perkembangan cepat Ahmadiyah – dengan karunia Allah – sangat mencengangkan. Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. juga mengirimkan beberapa muballigh, dan para pelajar Indonesia yang belajar di Qadian mulai pulang kembali. Tetapi perkembangan itu bukan tanpa perjuangan. Para ulama Indonesia, baik tradisional maupun modernis terus menyerang dan menentang. Banyak perdebatan resmi terjadi antara Ahmadiyah dan ulama Islam lainnya, dan yang terbesar adalah dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1933.

Karena Indonesia merupakan suatu titik penting di dunia, ketika Perang Dunia II pecah, Indonesia menjadi sasaran utama bagi pihak sekutu maupun pihak poros. Jepang, negara poros, segera menguasai Indonesia setelah Perang Pasifik – medan Perang Dunia II di Asia – pecah. Penjajahan Belanda berakhir,

R. Muhyiddin
dan dimulailah penguasa baru di Indonesia, periode baru dimulai. Sayangnya, penguasa baru tidak lebih baik dari penguasa lama, bahkan lebih keras. Penyebaran Ahmadiyah menjadi lambat, bahkan sebagian muballigh dan tokoh Jemaat, seperti (alm) M. Sayyid Syah Muhammad, (alm) M. Malik Aziz Ahmad Khan, (alm) M. Abdul Wahid, (alm) Sadkar, dll., dijebloskan ke dalam penjara. Hanya semata-mata karunia Allah bahwa mereka dibebaskan setelah mendekam beberapa lama di penjara, walaupun polisi rahasia militer Jepang, Kenpeitai, telah memutuskan untuk mengeksekusi sebagian dari mereka.

Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 membuka lebar masa depan yang lebih baik bagi Indonesia. Peristiwa itu juga membuka pintu pengorbanan bagi negara, sebagaimana Islam mengajarkan para pengikutnya mengkhidmati negara. Banyak Ahmadi Indonesia yang berkhidmat bagi negara dan mengorbankan diri mereka. Bahkan Ketua Nasional pertama Jemaat Ahmadiyah Indonesia, R. Muhyiddin mengorbankan jiwa beliau untuk negara. Beliau dibunuh oleh tentara Belanda pada tahun 1946 karena beliau merupakan salah satu tokoh penting kemerdekaan Indonesia. Juga ada beberapa Ahmadi yang bertugas sebagai prajurit di Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan mengorbankan diri mereka untuk negara. Sementara para Ahmadi yang lain berperan di bidang masing-masing untuk kemerdekaan Indonesia, seperti (alm) M. Abdul Wahid dan (alm) M. Ahmad Nuruddin berjuang sebagai penyiar radio, menyampaikan pesan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia. Sementara itu, muballigh yang lain (alm) M. Sayyid Syah Muhammad merupakan salah satu tokoh penting sehingga Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, di kemudian hari menganugerahkan gelar veteran kepada beliau untuk dedikasi beliau kepada negara. Juga banyak Ahmadi yang berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun demikian, periode revolusi ini juga memberikan kesempatan kepada para musuh Ahmadiyah untuk menyerang dengan keji, baik secara fisik maupun mental. Banyak Ahmadi mukhlis yang mengorbankan jiwa mereka demi agama, disyahidkan oleh orang-orang muslim ortodoks yang memaksa mereka keluar dari Ahmadiyah. Di Tasikmalaya, beberapa orang Ahmadi disyahidkan karena mereka menolak untuk keluar dari Ahmadiyah, mereka tetap teguh dalam keimanan mereka sampai titik darah yang penghabisan. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Periode 1950-an merupakan periode perkembangan cepat namun juga periode kesyahidan. Para pemberontak radikal, DI/TII, membantai beberapa orang Ahmadi di Jawa Barat. Kesalahan mereka hanyalah bahwa mereka tetap teguh dalam keimanan mereka, menolak untuk keluar dari Ahmadiyah. Tetapi juga pada tahun 1953, pemerintah mengesahkan Jemaat Ahmadiyah sebagai badan hukum dalam Republik Indonesia. Ini membuka pintu tabligh lebih besar lagi. Pengaruhnya tampak pada tahun 1950-1970 ketika banyak tokoh negara yang sangat akrab dengan Ahmadiyah dan dekat dengan orang-orang Ahmadi.

From left to right President Soekarno (The first President of The Republic Indonesia), Said Syah Muhammad(the then Amir/Raisut-tabligh Jamaat Indonesia), Hafiz Quadratullah, H. A. (Ahmadiyya Missionary) during the reception party of Independence Day (1950) in the Presidential Palace at Jakarta

Ahmadiyah tidak pernah berpolitik, meskipun ketegangan politik di Indonesia pada tahun 1960-an sangat tinggi. Pergulatan politik ujung-ujungnya membawa kejatuhan Presiden pertama Indonesia, Soekarno, juga memakan banyak korban. Satu lambang era baru di Indonesia pada masa itu adalah gugurnya mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia, Arif Rahman Hakim, yang tidak lain melainkan seorang khadim Ahmadiyah. Dia terbunuh di tengah ketegangan politik masa itu dan menjadi simbol bagi era baru pada masa itu.

Sebagaimana upaya-upaya negara-negara Islam untuk menghancurkan Ahmadiyah melalui Rabithah Alam al Islami semakin menjadi-jadi di awal 1970-an, para ulama Indonesia mengikuti langkah mereka. Maka ketika Rabithah Alam al Islami menyatakan Ahmadiyah sebagai non muslim pada tahun 1974, sebagaimana Majelis Nasional Pakistan melakukan hal yang sama, para ulama Indonesia berjuang keras untuk terjun ke jurang yang sama. Sejak saat itu, Jemaat Ahmadiyah Indonesia menghadapi berbagai hambatan dan halangan dalam perkembangannya, baik dalam bidang tabligh maupun dalam bidang tarbiyat. Namun hal tersebut merupakan penggenapan nubuwatan Nabi Besar Muhammad s.a.w. bahwa para pengikut Imam Mahdi – pengikut sejati Rasulullah s.a.w. di akhir jaman – akan menghadapi keadaan yang sama dengan para sahabat Rasulullah s.a.w., sebagaimana disebutkan dalam Al Quran Surah Al Jumu’ah: 3-4.

Sejak saat itu banyak halangan dan hambatan yang semakin keras, meskipun demikian itu tidak mengurangi semangat dan keberanian berkorban dan pengkhidmatan dalam dada para Ahmadi Indonesia. Periode 1980-an adalah periode perjuangan sekaligus penekanan dari pemerintah dan para ulama. Pemerintah tidak mengijinkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia untuk mengadakan Jalsah Salanah maupun KPA untuk Khuddam-Athfal dan Lajnah Imaillah. Banyak mesjid Ahmadiyah yang dirubuhkan oleh massa yang dipimpin oleh ulama. Majelis Ulama Indonesia merekomendasikan kepada pemerintah untuk menyatakan Ahmadiyah sebagai non-Islam. Banyak Ahmadi yang menderita serangan secara fisik. Meskipun demikian, seperti para sahabat Rasulullah s.a.w., mereka tetap sabar dan tabah.

Periode 1990-an menjadi periode perkembangan pesat Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Perkembangan itu menjadi lebih cepat setelah Hadhrat Khalifatul Masih IV atba, Hadhrat Tahir Ahmad, mencanangkan program Baiat Internasional dan mendirikan Moslem Television Ahmadiyya (MTA). Meskipun demikian, perkembangan pesat Jemaat Ahmadiyah Indonesia tidak sepesat Jemaat Ahmadiyah secara internasional di seluruh dunia. Walau demikian, perkembangan Jemaat Ahmadiyah Indonesia tetap luar biasa dibandingkan dengan perkembangan di masa lalu. Dan dengan karunia Allah, kemajuan Jemaat Ahmadiyah Indonesia menjadi semakin pesat setiap tahun. Dan insya Allah akan menjadi lebih cepat lagi di tahun-tahun mendatang.

Krisis moneter, diikuti dengan krisis ekonomi dan ketegangan politik mewarnai Indonesia di akhir abad ini. Mundurnya Presiden Soeharto diganti oleh Presiden Baharuddin Jusuf Habibie, dan kemudian pemilihan umum Republik Indonesia di tahun 1999 menjadikan Abdurrahman Wahid sebagai presiden keempat Republik Indonesia, walau begitu, itu tidak menghentikan pergolakan politik dan ekonomi.

Meskipun demikian, keadaan ini memberi kesempatan kepada Jemaat Ahmadiyah Indonesia untuk mengkhidmati masyarakat. Pengungsi Timor Timur yang membanjiri wilayah Indonesia setelah jajak pendapat menyatakan bahwa Timor Timur ingin lepas dari Indonesia, memberikan kesempatan kepada Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia untuk mengirimkan tim Khidmat Khalq untuk berkhidmat secara terbuka. Juga dengan karunia Allah, setelah tigapuluh tahun, Menteri Negeri Pemberdayaan Wanita menghadiri Ijtima Lajnah Imaillah Indonesia pada tahun 2000. Kemajuan ini membuka pintu untuk rencana penting Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Ini memberikan kesempatan yang berharga bagi Jemaat Ahmadiyah Indonesia untuk mimpi, harapan dan keinginan yang sudah lama, yaitu kunjungan Khalifatul Masih ke Indonesia. Hanya semata-mata karunia Allah, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad a.t.b.a, Hadhrat Khalifatul Masih IV datang ke Indonesia.

Indonesia memiliki tempat khusus dalam Jemaat Ahmadiyah, Indonesia memiliki nilai khusus dalam penyebaran Ahmadiyah di seluruh dunia. Orang-orang Indonesialah yang mengundang Ahmadiyah, tujuhpuluh lima tahun yang lalu. Orang-orang Indonesia-lah yang mengundang dan memohon karunia paling berharga dari Allah swt., yaitu Utusan-Nya. Suatu nilai yang sangat, sangat jarang. Dan sekarang, undangan yang telah dilayangkan tujuhpuluh lima tahun yang lalu telah dipenuhi, undangan kepada Khalifah Waqt, wakil-Nya di dunia, untuk datang ke Indonesia.

Ini bukanlah akhir, bahkan ini merupakan awal. Awal bagi seluruh Ahmadi Indonesia untuk meningkatkan dan berjuang lebih keras lagi demi Allah dan Jemaat-Nya. Jangan menjadi seperti umat Nabi Musa a.s. persis sebelum mereka memasuki Tanah yang Dijanjikan, yang menyebabkan kemurkaan Allah. Ikutilah Rasulullah saw. pada saat Perang Badar, ketika beliau saw. terus menerus berdoa dan memohon kepada Allah untuk menolong Islam, sekalipun Allah SWT telah menjanjikan kemenangan dalam Perang Badar.

Diterbitkan di: on November 6, 2009 at 8:21 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.